Pulau Dewata

pulaudewatablog01

pulaudewatablog02

pulaudewatablog03

pulaudewatablog04

pulaudewatablog05

pulaudewatablog06

pulaudewatablog07

pulaudewatablog08

pulaudewatablog09

pulaudewatablog10

pulaudewatablog11

pulaudewatablog12

pulaudewatablog13

pulaudewatablog14

pulaudewatablog15

pulaudewatablog16

pulaudewatablog17

pulaudewatablog18

pulaudewatablog19

pulaudewatablog20

pulaudewatablog21

pulaudewatablog22

pulaudewatablog23

pulaudewatablog24

pulaudewatablog25

pulaudewatablog26

pulaudewatablog27

pulaudewatablog28

pulaudewatablog29

pulaudewatablog30

pulaudewatablog31

pulaudewatablog32

pulaudewatablog33

pulaudewatablog34

pulaudewatablog35

pulaudewatablog36

pulaudewatablog37

pulaudewatablog38

pulaudewatablog39

pulaudewatablog40

pulaudewatablog41

pulaudewatablog42

pulaudewatablog43

pulaudewatablog44

pulaudewatablog45

 

p/s : Bali seringkali dianggap sebagai firdaus atau syurga di Asia Tenggara terutamanya Mat Salleh (orang Indonesia memanggil orang asing sebagai bule). Rancangan awal aku tak mahu singgah ke Bali atas alasan pulau ini terlalu overrated, tapi dengan finansial yang agak ketat akhirnya Bali jugaklah yang aku pilih. Jadi aku bersikap optimis sepanjang perjalanan aku ke Bali. Bali atau dikenali sebagai Pulau Dewata tempat yang paling terkenal dalam scene travel atas beberapa faktor ; 1) di sini para petualang boleh melihat keindahan alam 2) para pertualang juga boleh melihat kekayaan kebudayaan yang penuh spiritual dan yang ke 3) para petualang dapat menikmati gaya travel dari kelas backpacking sampai ke tahap yang maha mewah. Maka atas tiga sebab itu aku ambil keputusan untuk singgah di Bali. Walaupun arus kemodenan telah melanda pulau Bali sejak akhir-akhir ini, namun masih terdapat ruang-ruang yang masih lagi diisi dengan spirit tradisional. Berada di Bali juga membuatkan aku terfikir bahawa cara dan gaya umat Hindu di Bali jauh berbeza dengan cara dan gaya umat Hindu di Malaysia maupun India. Di sini mereka kekal dengan Hindu yang pekat elemen nusantaranya. Tapi aku tidaklah tahu apakah ajaran Hindu di Bali itu sama dengan Hindu di India tanah kelahiran agama itu. Meskipun dalam kalangan petualang ramai yang lebih tertarik dengan suasana pantai yang penuh hedonistik atau melihat orang-orang asing membanjiri laut-laut dengan papan luncur mereka sambil berpakaian pantai tetapi aku lebih suka melihat suasana budaya masyarakat Bali yang majoriti Hindu yang merupakan masyarakat sangat taat kepada tuntutan agama mereka melakukan berbagai-bagai ritual keagamaan yang memakan masa berhari-hari (ada yang berbulan-bulan) namun dalam masa yang sama terpaksa menghadapi perlawanan dengan arus kencang pemodenan dan persekitaran politik yang tidak memihak kepada mereka sebagai masyarakat asli Bali. Alam hijau yang terbentang luas juga merupakan salah satu sebab mengapa Bali terus-terus terkenal dalam kalangan bukan sahaja petualang malahan penulis, artis, politikus, usahawan, dan bermacam-macam lagi. Alasan yang terakhir mengapa Bali menjadi destinasi tujuan aku ialah disebabkan Kopi Kintamani dan Kopi Kupu-Kupu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s